Wellcome

SELAMAT DATANG SEMOGA APA YANG ANDA TEMUKAN DI BLOG INI BERGUNA BAGI ANDA.

Senin, 22 Februari 2010

Malam Ini,,,

Bersama Lord zame ( Zamkhier Islamie), Andi Firdauz samad, Ichal CR ( M chaerul risal)
Malam paanjaaaanngggggg,,,,,,,,,,,,,,,, Kurang kerjaanku di??? tidak penting ji lagi,,, hahahahah
tapi suka2ku,,, Blogku ji juga,,,,,

Sabtu, 20 Februari 2010

Identitas mahasiswa

Abstraksi Materi

Dalam banyak hal, seseorang senantiasa menetapkan suatu perencanaan tentang apa yang akan dilakukan nanti, esok, lusa dan seterusnya. Katakan saja setiap malamnya kita akan memikirkan atau merencanakan apa yang akan kita lakukan esok hari, ke mana kita akan pergi atau pakaian apa yang akan kita pakai, dan kesemuanya haruslah disesuaikan dengan tujuan yang kita inginkan. Begitu juga dengan pilihan menjadi seorang mahasiswa.

Ketika masih duduk dibangku sekolah seorang siswa diperhadapkan dengan berbagai pilihan untuk menjadi apa saja dan bagaimana mencapai pilihan tersebut. Keputusan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi pun jelaslah bukan akhir dari pertemuan kita dengan berbagai pilihan. Dengan keputusan menjadi seorang mahasiswa ternyata makin memperpanjang daftar pilihan yang harus kita pikirkan baik-baik. Karena dengan begitu artinya status, karakter, dan tanggung jawab kita pun bertambah, dan tak dapat dipungkiri ini merupakan suatu potensi yang sangat besar unutk menghadirkan berbagi konflik dalam diri mahasiswa.

Dalam konteks psikologi, masa-masa menjadi mahasiswa adalah waktu di mana aturan-aturan yang ketat yang kemudian menjadi media penghambat libido dan hasrat seseorang (dalam psikologi disebut dengan istilah Fiksasi) ini semakin mengendur atau semakin pudar, dan bukan tidak mungkin ini akan melahirkan efek yang meledak-ledak atau yang biasa disebut dengan istilah Katarsis. Sebagai contoh, pada waktu dibangku sekolah, seorang siswa harus menjalani suatu rutinitas yang secara ketat diatur oleh pihak sekolah, seperti jam masuk, jam pulang dan pakaian seragam serta berbagai aturan lain yang benar-benar membatasi gerak seorang siswa. Belum lagi aturan rumah yang tak kalah ketatnya, akibat anggapan bahwa seorang siswa belum cukup dewasa untuk menentukan pilihannya sendiri. Inilah yang dimaksud dengan fiksasi. Dan ketika siswa tersebut masuk ke dalam dunia kampus di mana tidak ada lagi aturan yang begitu ketatnya maka ini bisa saja menjadi ruang yang tepat untuk melakukan apa saja yang mungkin dianggap “tabu” ketika masih duduk di bangku sekolah, baik itu bermanfaat ataupun sebaliknya.

Di sinilah fungsi yang paling utama dari pada sebuah orientasi, yang kemudian mempertegas kembali apa yang menjadi motif utama kedatangan seseorang ke dalam dunia kampus.

Dari tinjauan di atas dapat dipahami bahwa latar belakang seseorang menjadi mahasiswa dapat mempengaruhi langkah yang dianggap paling tepat bagi dirinya, namun sebaliknya, itu juga dapat memperumit permasalahan yang dihadapi. Kompleksitas dari identitas mahasiswa yang dimaksudkan, selain berdasarkan UU Sistem Pendidikan Tinggi (SISDIKTI) yang menjelaskan tentang definisi mahasiswa dan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menjelaskan tentang fungsi mahasiswa yaitu Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian terhadap masyarakat, identitas mahasiswa juga dibentuk oleh akumulasi dari aktifitas yang dilakukan oleh mahasiswa yang dilakukan setiap waktu baik yang berkaitan dengan kegiatan dunia kampus maupun dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai peran yang dilakoni oleh seorang mahasiswa pun akan menghadirkan berbagai tanggung jawab yang berbeda pula. Sebagai individu seorang mahasiswa memiliki keinginan, cita-cita, dan kebebasan untuk menjadi apa saja yang diinginkan, yang menurutnya ideal. Berbeda pula perannya sebagai seorang anak yang mempunyai tanggung jawab unutk berbakti pada orang tuanya, atau membahagiakannya, katakan saja keinginan orang tua untuk melihat anaknya cepat merampungkan studinya dan kemudian mendapatkan pekerjaan serta pendapatan yang layak, untuk hidup lebih layak nantinya.

Berbeda pula tanggung jawab kepada masyarakat, dari sisi intelektualitas, jelas mahasiswa merupakan manusia yang berada dalam ruang ilmiah dan memiliki seperangkat pengetahuan tentang mana yang benar dan salah atau adil dan tidak adil yang selanjutnya digunakan untuk melakukan advokasi terhadap masyarakat yang sudah terlampau sering didera ketidakadilan dan penindasan. Selain itu konsekuensi materil pun menjadi beban mahasiswa terutama yang berada di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), hal ini dikarenakan biaya pendidikan yang tidak sepenuhnya ditanggung oleh mahasiswa tersebut namun juga dari subsidi pemerintah yang berasal dari pajak yang dipungut dari “tiap tetes keringat” rakyat Indonesia. Maka sudah pantaslah membela kepentingan masyarakat pun menjadi prioritas dalam tiap gerak setiap mahasiswa.

Dari sisi konstruk budaya dan sosiologis, mahasiswa tidak dapat lepas dari identitas yang dibentuk dari ikon-ikon budaya dominan, jelas ini akan menambah perbendaharaan masalah yang dihadapi. Mungkin disatu sisi konsep idealisme yang coba terus dipertahankan kemudiaan akan berbenturan dengan budaya-budaya (yang dianggap) hedonis, pragmatis, dan lainnya. Sedangkan tren dominan hari ini menuntut jiwa “muda” mahasiswa untuk terlibat dalam budaya tersebut.

Kemudian bagaimana dengan konsep ideal tentang mahasiswa tersebut?, Soe Hok Gie yang dikenal sebagai aktifis mahasiswa angkatan 66, dalam buku hariannya, yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku yang diberi judul Catatan Seorang Demonstran (Buku, Pesta, dan Cinta), mencoba menggambarkan tentang komposisi ideal seorang mahasiswa yang berada dalam kemelut antara kondisi kebangsaan yang sangat memprihatinkan di mana ketertindasan rakyat merajalela, dan sebagai mahasiswa dia aktif dalam kegiatan advokasi dan demonstrasi pada saat itu, namun selain itu, mahasiswa yang diceritakan terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Sastra dan aktif sebagai mahasiswa pecinta alam (MAPALA) Universitas Indonesia ini pun menuangkan dalam buku hariannya tersebut tentang cita-cita untuk masa depannya dan tentang harapan keluarga terhadap dirinya, serta kehidupannya sebagai seorang anak muda yang selalu ingin menikmati masa kejayaannya tersebut, tidak hanya sampai disitu dia pun menuliskan tentang kisah cintanya. Sangat kompleks, itulah ungkapan yang mungkin muncul ketika kita mencoba menelaah secara jujur tentang identitas mahasiswa hari ini. Rumit memang, namun bukan untuk dipersalahkan kemudian sejarah mahasiswa tersebut, namun bagaimana kemudian ini menjadi sebuah semangat untuk memberikan aksesoris-aksesoris yang lebih indah lagi di tiap dinding kehidupan kita.