Wellcome

SELAMAT DATANG SEMOGA APA YANG ANDA TEMUKAN DI BLOG INI BERGUNA BAGI ANDA.

Jumat, 07 Januari 2011

Saya bangga Menjadi Orang Muna(WUNA)

Sebagai seorang yang berasal dari suatu daerah tertentu sudah sewajarnya kita bangga dengan daerah kita sendiri dan semangat kedaerahan itulah yang kini lahir dalam pikiran saya sebagai seorang anak muda yang berasal dari daerah Muna.


1 hal paling penting di zaman sekarang ini untuk membantu mempromosikan daerah kita adalah dengan menulis dan mempromosikan daerah kita lewat dunia maya salah satunya lewat Blog, di daerah muna memang sangat banyak objek wisata yang jika dikembangkan dan dikelola dengan baik akan menjadi sumber penghasilan bagi daerah kita, namun bagaimana mungkin akan banyak turis yang akan melancong ke daerah kita kalau kita belum siap untuk itu,,,


sebelum lebih jauh menulis saya sempat membaca sebuah artikel tentang sejarah muna


Dlm tradisi lisan tntang Sejarah Pulau Wuna Pertama kali ditemukan oleh Sawerigading pelaut dari kerajaan Luwu di Sulawesi Selatan dan pengikutnya sebanyak 40 orang yang terdampar di sebuah wilayah yang saat ini bernama BAHUTARA. Terdamparnya Kapal Swaerigading tersebut akibat munculnya pulau dari dasar laut. Bukti terdamparnya kapal sawerigading tersebut adalah adanya sebuah bukit yang menyerupai sebuah kapal lengkap dengan kabin-kabinnya. Bukit yang menyerupai kapal tersebut diyakini oleh masyarakat Wuna sebagai fosil dari Kapal Sawerigading yang terdampar tersebut. Ditutur kan pula pengikut Sawerigading yang berjumlah 40 orang tersebut kemudian menjadi cikal bakal masyarakat Wuna. Cerita terdamparnya kapal sawerigading ini mungkin ada benarnya, namun belum ada penelitian untuk menguji kebenaran dari cerita tersebut. Satu-satunya bukti sejarah yang telah diteliti secara ilmiah sehingga dapat dipertanggung jawabkan jika dijadikan referensi tentang asal mula Pulau adalah situs purba berbentuk relief yang ada di gua LIANGKOBORI dan gua METANDUNO.


Suku Muna atau Wuna mendiami Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Dari bentuk tubuh, tengkorak, warna kulit (coklat tua/hitam), dan rambut (keriting/ikal) terlihat bahwa orang Muna asli lebih dekat ke suku-suku Polynesia dan Melanesia di Pasifik dan Australia ketimbang ke Melayu. Hal ini diperkuat dengan kedekatannya dengan tipikal manusianya dan kebudayaan suku-suku di Nusa Tenggara Timur dan Pulau Timor dan Flores umumnya. Motif sarung tenunan di NTT dan Muna sangat mirip yaitu garis-garis horisontal dengan warna-warna dasar seperti kuning, hijau, merah, dan hitam. Bentuk ikat kepala juga memiliki kemiripan satu sama lain. Orang Muna juga memiliki kemiripan fisik dengan suku Aborigin di Australia. Sejak dahulu hingga sekarang nelayan-nelayan Muna sering mencari ikan atau teripang hingga ke perairan Darwin. Telah beberapa kali Nelayan Muna ditangkap di perairan ini oleh pemerintah Australia. Kebiasaan ini boleh jadi menunjukkan adanya hubungan tradisional antara orang Muna dengan suku asli Australia: Aborigin. Dalam literatur dan juga dalam pergaulan orang Muna lebih dikenal sebagai orang Buton. Hal ini disebabkan karena Kerajaan/Kesultanan Buton, atas bantuan Belanda, mengkooptasi Kerajaan Muna dan mengklaimnya sebagai bagian dari Wilayahnya. Hingga Kerajaan/Kesultanan Buton dibubarkan oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1962, Raja Muna terus melawan Buton dan sekutunya, Belanda, dan tak pernah mengakui klaim tersebut. Kenyataan menunjukkan bahwa penutur bahasa Muna (orang Muna) mendiami sebagian besar wilayah Kerajaan/Kesultanan Buton.


Selain nama kerajaan/kabupaten/ pulau, Muna juga menjadi nama sebuah bahasa yang digunakan suku bangsa Muna yang mendiami Pulau Muna, Pulau Buton dan Pulau-pulau kecil di sekitar kedua pulau tersebut seperti Pulau Kadatua, Pulau Siompu dan Pulau Talaga ( Kabupaten Buton ). Dr Rene van den Berg, dosen linguistik di Darwin, Australia yang melakukan penelitian Bahasa Muna menjelaskan bahwa sebaran wilayah yang masyarakatnya menggunakan Bahasa Muna sebaagai bahasa tutur yang berada di daratan Pulau Buton adalah wilayah Kecamatan Batauga , Lasalimu, kamaru, Kapontori, Labuandiri, Lawele, laonti kambe-kambero, Bosuwa, Lawela ( Kabupaten Buton ), Kecamatan Betoambari (Katobengke-Topa-Sulaa-Lawela), Kecamatan Bungi ( liabuku, palabusa,wonco, bungi ) , Kecamatan Kokalukuna ( Pulau Makasar) di Kota Baubau serta di ex kerajaan Muna meliputi Kecamatan Kambowa, Kecamatan Wakorumba dan Kecamatan Bonegunu Kabupaten Buton Utara, serta Kecamatan Wakorsel, Maligano dan Kecamatan Pasir Putih Kabupaten Muna. Belum ada yang dapat menjelaskan secara ilmiah mengapa Suku Muna yang menggunakan bahasa muna yang awalnya menghuni Pulau Muna dapat tersebar begitu luas di daratan Pulau Buton dan Pulau-Pulau disekitarnya ( ex Kesultanan Buton). Sebagian sejarahwan Buton menulis bahwa luasnya sebaran wilayah yang dihuni oleh Suku Muna di Pulau Buton hingga menguasai hampir seluruh Pulau Buton adalah migrasi besar-besaran Suku Muna akibat tidak kondusifnya Kerajaan Muna sehingga mencari perlindungan pada Kesultanan Buton yang lebih aman. Namun argumentasi para penulis sejarah Buton tersebut terbantahkan dengan adanya fakta yang ditulis sendiri oleh orang buton dalam hikayat Mia patamiana. Hikayat tersebut mengisahkan bahwa jauh sebelum kerajaan Buton terbentuk Suku Muna telah menjadi penghuni Pulau Buton. Fakta itu dapat dilihat dari setiap wilayah yang menjadi tempat pendaratan Mia Patamiana, orang yang diakui sebagai orang yang memulai peradaban di Negeri Buton masyarakatnya menggunakan bahasa muna sebagai bahasa tutur mereka. Ini juga dijelaskan dalam hikayat Mia Patamiana dimana ketika sitamajo salah seorang dari empat orang Mia Patamianaa mendarat di Kapontori mereka telah menemukan masyarakat lokal yang menggunakan Bahasa Muna sebagai bahasa komunikasi diantara mereka. Demikian pula ketika armada Mia Patamiana lainnya ( Simalui, Sijawangkati dan ) mendarat disuatu wilayah seperti Kamaru, Lasalimu, Kadatua dan Topa mereka selalu bertemu dengan penduduk lokal yang menggunakan bahasa Muna sebagaai bahasa tutur mereka. Bukti kuat dari itu adalah sampai saat ini masyaarakat diwilayah tersebut tetap menggunakan Bahasa Muna sebagai bahasa primer mereka selain Bahasa Indonesia. Berdasarkan luas wilayah dan kuantitas pengguna Bahasa Muna sebagai bahasa Tutur di Sulawesi tenggara, bahasa Muna merupakan bahasa kedua penutur terbanyak setelah Bahsa Tolaki-Mekonggga. Secara geografis penyebaran penutur kedua bahasa tersebut juga berbeda. Bahasa Tolaki-Mekongga sebarannya di daratan Pulau Sulawesi Bagian Tenggara, sedangkan Bahasa Muna Penuturnya tersebar di Kepulauan termasik dua pulau besar yaitu Muna dan Pulau Buton. Dr, Rene Van dengberg juga menemukan penutur bahasa Muna ternyata bukan saja di tersebar di kepulauan Sulawesi bagian tenggara tetapi di sebagian Pulau Ambon dan kepualauan Maluku Utara. Dr. Rene Van Denberg tidak menjelaskan sejak kapan bahasa muna digunakan oleh maasyaarakat Pulau Ambon dan Kepulauan Maluku Utara serta bagaimana proses penyebarannya. Mungkin saja penyebaran bahasa Muna di Pulau Ambon dan Kepulauan Maluku utara tersebut lakukan oleh La Ode Wuna Putra raja Muna VI Sugi Manuru. Tradisi lisan masyarakat Muna menjelaskan bahwa salah seorang Putra Raja Muna VI Sugimanuru yaitu La Ode Wuna yang berwujud Ular berkepala manusia ketika diusir karena berulah yang dapat mencoreng kewibawaan ayahaandanya sebagai Raja berlayar menuju Pulau Halmahera di Maluku Utara. Dalam pelayaranya La Ode Wuna yang dikenal sakti menumpang pada dua buah kelapa. Sesampainya di pantai Pulau Halmahera ( maluku Utara ), La Ode Wuna kemudian menanam kelapa yang menjadi tumpangannya tersebut di pantai dimana dia terdampar. Jadi ada kemungkinan La Ode Wuna dan pengikutnyalah yang pertama menyebarkan bahasa Muna di Kepulauan Maluku/maluku Utara melalui alkulturasi budaya. “Bahasa Menunjukan Bangsa” demikian dikatakan JS. Badudu, seorang pakar bahsa Indonesia yang terkenal pada masa Orde Baru karena mengeritik dialek Presiden Suharto melafalkan kata makin dengan mangkin. Menurut JS. Badudu kebesaran suatu bangsa dapat dilihat dari seberapa besar kecintaan bangsa itu dengan bahasanya. Salah satu bentuk dari kecintaan tersebut adalah ditentukan dengan kualitas dan kuantitas orang yanng menggunakan bahasa bangsa tersebut. Mengapa JS. Badudu menekankan penggunaan bahasa dengan eksistensi suatu bangsa? Hal ini terjawab dengan sejarah kolonialisme moderen di mana untuk dapat menngifiltrasi suatu bangsa, maka hal pertama yang dilakukan bangsa tersebut adalah menyebar luaskan penggunaan bahasanya pada bangsa yang diincar untuk dijadikan koloninya. Dengan dipahaminya bahasa bangsanya pada wilayah jajahannya maka semakin mempermudah transformasi nuday dan idealismenya. Dengan pemahaman bahasa oleh suatu bangsa yang menjadi koloni dari bangsa tersebut akan mempermudah komunikasi diantara mereka sehingga informasi yang akan disampaikan dapat dengan mudah dimengerti. Melihat begitu luasnya h penyebaran wilaya yang masyarakatnya menggunakan bahasa muna sebagai bahasa tutur mereka di wilayah Sulawesi tenggara inklud didalamnya ex kesultanan Buton, masihkah kita berpikir bahwa kerajaan Muna berada dibawah kendali kesultanan Buton? Atau mungkin Kesultanan buton berada di bawah Kerajaan Muna? atau mungkin bahasa resmi kesultanan Buton adalah bahasa Muna?
Muna pada awalnya dikenal dengan nama WUNA yang berti bunga. Nama itu memberi makna spiritual kepada kejadian alamnya,dimana terdapat gugusan batu yang berbunga. Gugusan batu tersebut seakan-akan batu karang yang ditumbuhi rumput laut. Gugusan batu tersebut terletak di dekat Masjid tua Wuna di Kota Muna yang bernama bahutara ( bahtera)..
dikutip dari (Sahar Ndoasa)

Tidak ada komentar: